Bogor – Di saat banyak orang tua mengeluhkan anak-anak yang sulit lepas dari gadget, kecanduan game online, atau menghabiskan berjam-jam waktunya di depan layar, ada sebuah keluarga yang memilih jalan berbeda. Selama lebih dari satu dekade, Namin AB Ibnu Solihin bersama istrinya berkomitmen membesarkan kelima anak mereka tanpa gadget pribadi, tanpa televisi, dan tanpa budaya menonton di bioskop.
Bagi sebagian orang, pilihan tersebut terdengar tidak masuk akal. Di era ketika teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bagaimana mungkin anak-anak bisa tumbuh tanpa gadget? Bukankah mereka akan tertinggal dari teman-temannya? Bukankah mereka akan kesulitan mengikuti perkembangan zaman?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang selama bertahun-tahun sering diterima Namin. Namun ia tetap melangkah dengan keyakinan yang sama. Bukan karena membenci teknologi. Bukan pula karena menolak kemajuan zaman. Justru karena ia menyadari betapa berharganya masa kanak-kanak.
Menurutnya, anak-anak memiliki waktu yang sangat singkat untuk menikmati dunia mereka. Masa bermain, masa berimajinasi, masa membangun kedekatan dengan orang tua, dan masa mencintai buku tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Karena itulah ia memilih untuk menjaga masa-masa tersebut sebaik mungkin.
Berawal dari Kegelisahan Seorang Ayah
Sebagai seorang pendidik yang selama bertahun-tahun berinteraksi dengan guru, siswa, dan orang tua di berbagai daerah, Namin melihat perubahan besar dalam kehidupan anak-anak. Semakin banyak anak yang menghabiskan waktu bersama layar dibandingkan bersama keluarganya. Gadget perlahan menjadi teman bermain, guru, penghibur, bahkan pengasuh bagi sebagian anak.
Fenomena tersebut menimbulkan kegelisahan dalam dirinya. Ia mulai bertanya, apakah anak-anak masih bisa tumbuh bahagia tanpa ketergantungan pada gadget? Apakah keluarga masih bisa menjadi pusat pendidikan utama bagi anak? Apakah buku, permainan tradisional, dan interaksi langsung masih memiliki tempat di tengah gempuran dunia digital?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan sebuah keputusan besar dalam keluarganya. Ketika banyak keluarga menjadikan layar sebagai pusat hiburan rumah, mereka justru membangun budaya keluarga yang berpusat pada interaksi, percakapan, pembelajaran, dan kebersamaan.
Ternyata yang Sulit Bukan Gadgetnya
Banyak orang mengira mendidik anak tanpa gadget hanya soal membuat aturan atau larangan. Namun pengalaman Namin menunjukkan hal yang berbeda.
Menurutnya, tantangan terbesar bukanlah menjauhkan anak dari gadget. Tantangan terbesar adalah menggantikan fungsi gadget itu sendiri.
Jika gadget memberikan hiburan, orang tua harus menghadirkan aktivitas yang lebih menarik.
Jika gadget menawarkan perhatian, orang tua harus memberikan kehadiran yang lebih nyata.
Jika gadget menyediakan tontonan, orang tua harus menyediakan pengalaman.
Karena itulah perjalanan ini menuntut komitmen yang tidak kecil. Orang tua harus menyediakan waktu untuk membaca bersama anak-anak, menemani bermain, mengajak berdiskusi, mendengarkan cerita mereka, serta menghadirkan suasana rumah yang hangat dan menyenangkan.
“Rumah harus lebih menarik daripada layar.”
Prinsip sederhana itulah yang terus dipegang dalam keluarga mereka.
Membangun Budaya Membaca dan Kebersamaan
Alih-alih menghabiskan waktu di depan televisi atau bermain game online, anak-anak dibiasakan akrab dengan buku sejak usia dini. Rak buku menjadi bagian penting dalam rumah mereka. Membaca bukan sekadar aktivitas belajar, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup keluarga.
Waktu luang diisi dengan berbagai aktivitas yang memperkuat hubungan antaranggota keluarga. Bermain bersama, berdiskusi, belajar Al-Qur’an, berolahraga, berkegiatan di alam, hingga mengerjakan proyek-proyek sederhana menjadi bagian dari keseharian mereka.
Bagi Namin, tujuan utama dari pola pengasuhan ini bukan sekadar menciptakan anak yang tidak bermain gadget. Tujuan yang jauh lebih besar adalah membentuk anak-anak yang mencintai ilmu, memiliki karakter yang kuat, dekat dengan keluarga, dan mampu menikmati kehidupan nyata yang ada di sekelilingnya.
Sering Dianggap Tidak Masuk Akal
Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Tidak sedikit orang yang mempertanyakan pilihan mereka.
Ada yang menganggap pendekatan tersebut terlalu idealis. Ada yang berpendapat bahwa anak-anak akan tertinggal perkembangan teknologi. Bahkan ada yang menilai bahwa pola pengasuhan seperti itu tidak mungkin diterapkan di zaman sekarang.
Namun bagi Namin, teknologi selalu dapat dipelajari ketika waktunya tiba. Sebaliknya, masa kecil yang hilang tidak akan pernah bisa dikembalikan.
Ia percaya bahwa sebelum mengenal dunia digital secara luas, anak-anak perlu memiliki fondasi yang kuat berupa akhlak, karakter, kemandirian, kedisiplinan, budaya membaca, serta kemampuan berinteraksi dengan orang lain secara sehat.
Dari Pengalaman Menjadi Gerakan Edukasi
Apa yang awalnya merupakan keputusan pribadi keluarga kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan edukasi yang lebih luas. Melalui berbagai seminar parenting, pelatihan guru, tulisan, blog, dan media sosial, Namin mulai membagikan pengalaman yang dijalaninya sendiri sebagai seorang ayah.
Ia tidak berbicara sebagai pengamat. Ia berbicara sebagai pelaku.
Pengalaman nyata tersebut kemudian melahirkan gerakan yang dikenal dengan nama Anak Tanpa Gadget, sebuah gerakan edukasi yang mengajak para orang tua untuk lebih bijak dalam menyikapi penggunaan teknologi pada anak.
Pesan yang dibawanya bukanlah mengajak keluarga memusuhi teknologi. Sebaliknya, ia mengajak orang tua untuk menempatkan teknologi secara proporsional dan memastikan bahwa teknologi tidak mengambil alih peran keluarga dalam mendidik anak.
Menjadi Inspirasi bagi Banyak Orang Tua
Seiring berjalannya waktu, kisah keluarga ini mulai dikenal luas di berbagai komunitas pendidikan dan parenting. Banyak orang tua merasa mendapatkan harapan baru setelah mendengar pengalaman yang dibagikan Namin.
Di tengah meningkatnya kasus kecanduan gadget pada anak, menurunnya minat baca, serta semakin berkurangnya interaksi dalam keluarga, kisah ini menghadirkan sebuah pesan bahwa orang tua masih memiliki pilihan.
Bahwa keluarga masih dapat membangun budaya yang berbeda.
Bahwa rumah masih bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak.
Bahwa buku masih dapat menjadi sahabat terbaik mereka.
Dan bahwa kebersamaan keluarga masih memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada teknologi secanggih apa pun.
Menjaga Fitrah Anak di Tengah Dunia Digital
Bagi Namin AB Ibnu Solihin, inti dari seluruh perjuangan ini sesungguhnya bukanlah soal gadget, televisi, atau bioskop. Yang ingin dijaga adalah fitrah anak.
Ia percaya bahwa setiap anak dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang besar, semangat belajar yang alami, kemampuan berimajinasi yang luar biasa, serta kebutuhan yang kuat akan kasih sayang dan keteladanan orang tua.
Karena itu, tugas terbesar orang tua bukan sekadar menyediakan fasilitas terbaik bagi anak-anaknya, melainkan menghadirkan diri mereka dalam kehidupan anak-anak tersebut.
Di tengah dunia yang semakin digital, pesan itulah yang terus diperjuangkan Namin melalui keluarga, tulisan, seminar, dan gerakan edukasi yang ia bangun.
Sebuah pesan sederhana, namun semakin relevan di zaman sekarang:
Anak-anak tidak hanya membutuhkan teknologi. Mereka lebih membutuhkan kehadiran orang tuanya.
