Saat sebagian besar keluarga menjadikan gadget sebagai teman sehari-hari anak, Namin AB Ibnu Solihin justru mengambil keputusan yang tidak biasa. Selama lebih dari 13 tahun, pendidik dan pembicara parenting ini membesarkan kelima anaknya tanpa gadget pribadi, tanpa televisi, bahkan tanpa budaya menonton di bioskop. Sebuah pilihan yang kerap dianggap mustahil di era digital, tetapi terus ia jalani bersama keluarganya hingga hari ini.
Keputusan itu bukan lahir dari sikap anti teknologi. Namin menyadari bahwa teknologi adalah bagian dari kehidupan modern. Namun ia meyakini bahwa masa kanak-kanak adalah masa emas yang tidak boleh direbut oleh layar digital.
Karena itu, sejak anak pertama lahir, ia dan istrinya membangun budaya keluarga yang berbeda. Di rumah mereka tidak ada televisi sebagai pusat hiburan keluarga. Gadget tidak dijadikan alat untuk menenangkan anak yang rewel. Sebaliknya, waktu keluarga diisi dengan membaca buku, bermain bersama, berdiskusi, berolahraga, dan berbagai aktivitas yang melibatkan interaksi langsung.
Tentu perjalanan itu tidak selalu mudah. Ketika anak-anak lain sibuk dengan game online atau media sosial, anak-anak mereka harus belajar menghadapi lingkungan yang berbeda. Tidak sedikit orang yang mempertanyakan pilihan tersebut. Sebagian bahkan menganggap cara itu terlalu ketat dan sulit diterapkan pada zaman sekarang.
Namun Namin memiliki pandangan berbeda.
Menurutnya, tantangan terbesar bukanlah menjauhkan anak dari gadget. Tantangan yang sesungguhnya adalah membuat rumah menjadi tempat yang lebih menarik daripada layar. Orang tua harus hadir, menyediakan waktu, memberi teladan, dan menciptakan aktivitas yang membuat anak merasa bahagia tanpa ketergantungan pada perangkat digital. Gagasan inilah yang kemudian dikenal luas melalui gerakan “Anak Tanpa Gadget” yang selama bertahun-tahun ia kampanyekan melalui seminar, tulisan, dan media sosial.
Perjuangan tersebut kemudian menginspirasi banyak orang tua. Berbagai sekolah dan lembaga pendidikan mengundangnya untuk berbicara tentang parenting, pendidikan karakter, budaya membaca, dan tantangan pengasuhan anak di era digital. Dalam berbagai kesempatan, ia tidak hanya berbagi teori, tetapi juga pengalaman nyata yang telah dijalani keluarganya sendiri selama lebih dari satu dekade.
Kini, ketika isu kecanduan gadget pada anak semakin mengkhawatirkan, kisah keluarga Namin menjadi pengingat bahwa orang tua masih memiliki kendali untuk menentukan budaya keluarga. Di tengah dunia yang semakin digital, ia menunjukkan bahwa anak-anak tetap dapat tumbuh bahagia, dekat dengan orang tua, dan menikmati masa kecilnya tanpa harus bergantung pada layar.
